Nama : Ravenzka Grace Surlia
NIM : 243300020030
Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular
Dosen Pengampu : Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., Mi.I.Kom
PERNIKAHAN ADAT DI INDONESIA
Indonesia memiliki banyak keragaman yang berbeda-beda di tiap daerah, mulai dari penggunaan bahasa, pakaian adat, hingga pernikahan adat.
Setiap suku memiliki tradisi pernikahan yang unik, yang menjadi cerminan dari keberagaman budaya yang kaya di Indonesia. Mulai dari upacara adat hingga ritual yang khas, pernikahan adat merupakan peristiwa yang sarat dengan makna dan simbolisme bagi masyarakat setempat.
Berikut beberapa pernikahan adat yang ada di Indonesia.
1. Pernikahan Adat Sunda
Sama seperti pernikahan pada umumnya, pernikahan adat Sunda memiliki serangkaian prosesi tersendiri yang tentu saja penuh makna. Berikut prosesi pernikahan adat ala Sunda.
Pengajian : Keluarga, teman, dan tetangga calon pengantin berkumpul untuk membaca Al-Qur'an/Yasin dengan tujuan mendoakan kedua mempelai.
Siraman : Arti siraman adalah agar kedua mempelai ingat bagaimana dahulu dimandikan oleh orang tua mereka.
Sungkeman : Kedua pengantin harus menundukkan badan dan kepala di depan para lansia dan meminta maaf.
Saweran : Kedua mempelai akan dihujani dengan koin, permen, serta nasi. Koin artinya kekayaan, beras artinya kemakmuran, permen artinya manisnya hidup.
Nincak Endog : Menginjak telur.
Meuleum Haruput : Kedua pengantin menyalakan dan mematikan api secara bergantian.
Ngalepaskeun Japati : Membebaskan merpati.
Huap Lingkung : Pengantin laki-laki dan perempuan akan diberi makan oleh orang tua mereka.
Pabetot Bakakak : Pengantin pria dan wanita akan menarik ayam panggang.
Untuk busana pernikahan, pengantin pria akan mengenakan pakaian berupa mantel, topi putih dengan ikat pinggang putih, kain batik untuk bagian bawah, penutup kepala, dan selop yang berwarna putih.
Pengantin pria juga akan mengenakan hiasan, berupa kalung panjang melati dan keris yang dipakai sebagai senjata tradisional
2. Pernikahan Adat Jawa
Pernikahan adat Jawa memiliki banyak prosesi yang harus dilaksanakan oleh kedua pengantin dan juga keluarga pengantin.
Prosesi Pranikah : terdiri dari Pasang Tarub, Bleketepe, dan Tawuhan, Sungkeman, Siraman, Adol Dawet, dan Midodareni.
Prosesi Puncak (Akad Nikah) : terdiri dari Upacara Pernikahan, Panggih, Balang Gantal, Wijikan, Sinduran, Bobot Timbang, Ngunjuk Rujak Degan, Dulangan, dan Sungkeman.
Untuk busana pernikahan, warna hitam dipilih karena merupakan simbol kebijaksanaan dan kesempurnaan dalam falsafah adat Jawa.
Busana pernikahan adat Jawa memang tampil beda dari baju pernikahan pada umumnya karena membawa makna yang begitu besar.
Dengan menggunakan busana pernikahan berwarna hitam maka diharapkan rumah tangga pasangan suami istri ini akan senantiasa dilimpahi kebijaksanaan dan menuju kesempurnaan yang mereka harapkan.
3. Pernikahan Adat Palembang
Karena Palembang ini dulunya adalah daerah kesultanan, prosesi pernikahan adat Palembang masih kental dengan nuansa kesultanannya.
Setiap prosesi pernikahan adat Palembang yang dilakukan memiliki makna tersendiri dan kental sekali dengan makna religi.
Yuk, simak bagian-bagian prosesi pernikahan adat Palembang berikut ini!
Madik : Utusan atau perwakilan dari keluarga calon pengantin pria berkunjung ke rumah calon pengantin wanita yang memiliki tujuan untuk berkenalan.
Menyenggung : Keluarga akan mengatur waktu untuk tanggal kedatangan berikutnya demi melamar calon pengantin perempuan.
Lamaran : Kunjungan ke rumah calon pengantin wanita untuk meminang atau melamar sang gadis pujaan hati calon mempelai pria.
Berasan dan Mutus : Musyawarah kedua belah pihak keluarga.
Akad Nikah : Akad nikah dilakukan dengan proses seperti umumnya. Mas kawin yang diberikan sesuai dengan kesepakatan kedua keluarga.
Mengarak Pacar : Ini merupakan arak-arakan di mana rombongan keluarga pengantin pria tiba di rumah pengantin wanita dan akan disambut ibu sang pengantin wanita.
Munggah : Puncak dari prosesi pernikahan adat Palembang. Acara ini dimeriahkan dengan tabuhan rebana yang mengiringi pengantin pria.
Baju pernikahan adat Palembang yang lebih sering dikenakan dan terkenal adalah Aesan Gede.
Baju pernikahan adat Palembang ini melambangkan kebesaran raja Kerajaan Sriwijaya yang kemudian diartikan sebagai busana pengantin pernikahan adat Palembang.
4. Pernikahan Adat Padang
Tata krama dan upacara adat perkawinan Padang tidak boleh diremehkan karena semua orang Minang menganggap bahwa “Perkawinan itu sesuatu yang agung”, yang kini diyakini hanya “sekali” seumur hidup.
Berikut proses pernikahan adat Padang :
Maresek: Penjajakan pertama sebagai permulaan dari rangkaian tata-cara pelaksanaan pernikahan.
Maminang atau Batimbang Tando : Bertukar tanda.
Mahanta Siriah : Minta izin.
Babako-Babaki : Pihak keluarga dari ayah calon mempelai wanita (disebut bako) ingin memperlihatkan kasih sayangnya dengan ikut memikul biaya sesuai kemampuan.
Malam Bainai : Melekatkan tumbukan halus daun pacar merah atau daun inai ke kuku-kuku calon pengantin wanita.
Manjapuik Marapulai : Rangkaian terpenting, di mana calon pengantin pria akan dijemput dan dibawa ke rumah calon pengantin wanita untuk melangsungkan akad nikah.
Penyambutan di Rumah Anak Daro : Tradisi menyambut kedatangan calon mempelai pria di rumah calon mempelai wanita.
Tradisi Usai Akad Nikah : Terdapat lima rangkaian, yaitu Mamulangkan Tando, Malewakan Gala Marapulai, Balantuang Kaniang atau Mengadu Kening, Mangaruak Nasi Kuniang, Bamain Coki.
5. Pernikahan Adat Batak
Pernikahan adat Batak Toba terdiri dari banyak prosesi dan mengeluarkan banyak biaya sehingga dikenal sebagai pernikahan mahal.
Adapun tata cara pernikahan adat Batak yang disebut dengan Na Gok, yaitu pernikahan orang Batak secara normal berdasarkan ketentuan adat terdahulu.
Hal ini yang melibatkan unsur Dalihan Na Tolu, seperti sebagai berikut:
Mangaririt : Tahap persiapan pernikahan yang meliputi memilih gadis yang akan dijadikan istri berdasarkan kriteria pria atau keluarganya.
Mangalehon : Tanda memiliki makna pemberian tanda apabila seorang pria telah menemukan wanita sebagai calon istrinya.
Marhusip atau melamar : Pihak laki-laki melamar perempuan yang akan menjadi bagian keluarga mereka.
Marhata sinamot : Kegiatan yang membicarakan berapa jumlah sinamot dari pihak pria, hewan apa yang akan disembelih, berapa banyak ulos, berapa banyak undangan yang akan disebarkan, dan di mana dilaksanakannya upacara pernikahan tersebut.
Pundun Saut : Pihak kerabat pria akan mengantarkan ternak yang sudah disembelih untuk diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat.
Martumpol : Disebut juga sebagai acara pertunangan.
Martonggo Raja : Kedua pihak dari calon pengantin akan membahas prosesi adat hari H lebih rinci lagi.
Manjalo Pasu-Pasu Parbagason : Pemberkatan pernikahan.
Ulaon Unjuk : Pesta adat.
Dialap jual : Jika pesta pernikahan diselenggarakan di rumah pengantin wanita, maka dilaksanakanlah acara membawa pengantin wanita ke tempat mempelai pria.
Ditaruhon Jual : Jika pesta pernikahan dilaksanakan di rumah pria, maka pengantin wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya, untuk kemudian diantar lagi oleh para namboru (saudara) nya ke tempat sang suami.
Paulak Une : Langkah untuk kedua belah pihak bebas saling berkunjung-mengunjungi setelah beberapa hari berselang upacara pernikahan yang biasanya dilaksanakan seminggu setelah upacara pernikahan.
Manjae : Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah dan mata pencarian.
Maningkir Tangga : Setelah pengantin manjae atau tinggal di rumah mereka, orang tua beserta keluarga pengantin datang untuk mengunjungi rumah mereka dan diadakan makan bersama.
6. Pernikahan Adat Betawi
Pernikahan adat Betawi sangat dipengaruhi oleh budaya bangsa Arab dan Tionghoa yang bisa dibilang unik atau beda dari yang lain.
Penasaran bagaimana prosesi pernikahan adat Betawi? Ini dia ulasannya!
Melamar : Pada tahapan ini, pihak keluarga calon pengantin pria untuk meminta izin secara resmi kepada pihak calon mempelai wanita.
Tande Putus : Prosesi ini hampir sama dengan proses melamar. Pihak utusan dari laki-laki yang datang menemui keluarga calon mempelai perempuan adalah orang-orang dari keluarga pria yang telah dipercaya.
Penentuan Mahar.
Masa Dipiare : Calon pengantin wanita (none mantu) dijaga oleh tukang piare atau dukun pengantin selama satu bulan.
Siraman.
Potong Centung : Kegiatan membersihkan rambut yang tumbuh di sekitar tengkuk, leher, dan pelipis calon wanita.
Ngerudat : Prosesi iring-iringan rombongan calon mempelai pria menuju kediaman calon pengantin wanita.
Palang Pintu : Tradisi berbalas pantun dan adu silat sebelum mempelai pria diterima masuk ke dalam rumah calon mempelai wanita.
Akad Nikah.
Dipuade : Kedua mempelai duduk dan tukang rias membuka cadar atau penutup wajah mempelai wanita.
7. Pernikahan Adat Bali
Setiap tahun pernikahan adat Bali yang dilakukan membutuhkan banyak persiapan, tetapi seluruh prosesi tersebut sarat akan makna dan memiliki tujuan baik bagi kedua calon pengantin.
Lalu, seperti apakah pernikahan adat Bali dalam agama Hindu? Simak selengkapnya.
Menentukan Hari Baik.
Ngekeb : Upacara dalam pernikahan adat Bali yang bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita.
Ngungkab lawang : Membuka pintu.
Mesegeh Agung : Sebelum memasuki pekarangan rumah mempelai pria, kedua calon pengantin harus menghadapi prosesi mesegeh Agung.
Medengen-dengenan (Mekala-kalaan) : Prosesi medengen-dengenan (mekala-kalaan) akan dipimpin oleh seorang pemimpin agama, seperti pendeta ataupun pemangku adat sesuai dengan adat dan budaya masing-masing daerah.
Upacara Mewidhi Widana : Pada upacara ini, kedua mempelai akan memakai pakaian kebesaran pengantin atau bisa juga dengan pakaian adat biasa sesuai kemampuan.
Upacara Mejauman (Ma Pejati) : Dalam prosesi pernikahan adat Bali ini, wanita yang mengikuti sang suami datang kembali ke keluarga wanita didampingi oleh keluarga besar, kerabat dan tetangga dari keluarga pria.
Natab Pawetonan : Ritual ini dilakukan di atas tempat tidur dengan cara menyerahkan seserahan berupa barang bernilai, seperti perhiasan dan pakaian oleh mempelai pria kepada ibu dari mempelai wanita.
Bekal (Tadtadan) : Bekal (tadtadan) dilakukan dengan cara memberikan seperangkat perhiasan atau pakaian ibadah dari ibu kepada anak wanitanya.
Mejaya-jaya : Upacara ini dilaksanakan setelah pasangan pengantin telah sah menjadi suami istri dan melambangkan harapan agar selalu diberi kemudahan serta bimbingan dari para Sanghyang Pramesti Guru.
8. Pernikahan Adat Flores
Pernikahan adat di Flores, Nusa Tenggara Timur, sangat beragam karena setiap suku di Flores memiliki tradisi yang berbeda-beda. Namun, ada beberapa elemen yang umum dijumpai dalam pernikahan adat di sana, terutama pada suku-suku besar seperti suku Ngada, Ende, dan Lio.
Lamaran dan Pemberian Seserahan : Biasanya, prosesi pernikahan dimulai dengan lamaran, yang melibatkan keluarga besar dari kedua belah pihak. Pada saat lamaran, pihak pria membawa seserahan, yang berupa barang-barang simbolis yang menunjukkan keseriusan mereka dalam hubungan tersebut.
Pernikahan Agama dan Adat : Setelah lamaran, pasangan biasanya melangsungkan pernikahan agama, yang bisa berupa misa Katolik di gereja atau upacara adat tertentu. Setelah itu, upacara adat dilanjutkan di rumah mempelai wanita atau tempat yang disepakati.
Pernikahan sebagai Ikatan Keluarga : Di Flores, pernikahan sering dipandang bukan hanya sebagai ikatan antara dua individu, melainkan juga sebagai penyatuan dua keluarga besar. Maka dari itu, peran keluarga sangat penting dalam seluruh prosesi pernikahan.
Tarian dan Musik Adat : Dalam banyak upacara pernikahan adat Flores, ada tarian-tarian tradisional yang dipentaskan, seperti tarian adat yang biasanya dilakukan oleh anggota keluarga atau masyarakat setempat. Musik tradisional juga memainkan peran besar, sering kali menggunakan alat musik tradisional seperti gong atau sasando.
Tradisi Pembayaran Mas Kawin : Pembayaran mas kawin atau "sebo" merupakan bagian dari prosesi adat. Sebo biasanya berupa uang, ternak, atau barang berharga lainnya yang diberikan oleh pihak pria kepada keluarga wanita. Ini sebagai tanda penghargaan dan tanggung jawab dari pihak pria.
Ritual dan Simbolisme : Beberapa suku di Flores memiliki ritual tertentu yang melambangkan kesuburan, kesejahteraan, dan keharmonisan dalam rumah tangga. Ini bisa mencakup pemberian barang-barang atau doa-doa khusus yang dilakukan oleh tetua adat.
Referensi:
1. Artikel orami.com