Nama : Ravenzka Grace Surlia
NIM : 243300020030
Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular
Dosen Pengampu : Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., Mi.I.Kom
Bhinneka, Tapi Beneran Tunggal Ika?
Kita sering bilang “Bhinneka Tunggal Ika”, tapi apakah kita benar-benar tahu cara menjalaninya?
Di negeri yang punya ribuan suku, bahasa, dan tradisi ini, integrasi budaya bukan hal baru. Tapi tetap saja, sampai hari ini, kita masih sering terjebak dalam prasangka, stereotip, bahkan konflik identitas.
Blog ini akan ngobrol santai tentang integrasi budaya: bagaimana seharusnya budaya-budaya di Indonesia bisa saling rangkul tanpa harus saling tindih.
Unsur-Unsur Budaya di Sekitar Kita
Menurut antropolog Clyde Kluckhohn dan Koentjaraningrat, unsur-unsur kebudayaan yang bersifat universal dapat dibagi menjadi tujuh unsur pokok, yaitu:
1. Bahasa
Bahasa adalah alat komunikasi utama dalam masyarakat, baik secara lisan, tulisan, maupun simbolik. Bahasa berfungsi sebagai media untuk menyampaikan ide, nilai, dan tradisi. Bukan hanya alat komunikasi, bahasa juga sebagai jati diri sebuah bangsa. Tapi lucunya, makin ke sini, kita makin sering bucin sama bahasa asing. Bahasa Inggris jadi simbol “keberhasilan”, padahal ngomong bahasa daerah aja belepotan. Anak muda makin asing dengan bahasa ibunya sendiri, bahkan ada yang malu pakai bahasa daerah karena takut dikira "kampungan".
Jangan sampai kita jadi bangsa yang lebih fasih nyanyi lagu Korea daripada paham makna pepatah nenek sendiri. Bukan artinya kita tidak boleh belajar bahasa asing, tapi, bahasa sendiri tidak boleh sampai dilupakan. Karena ketika bahasa daerah punah, kita nggak cuma kehilangan kata-kata, tapi juga filosofi hidup, nilai lokal, dan rasa kekerabatan.
2. Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan meliputi pengetahuan masyarakat tentang lingkungan sekitar, termasuk geografi, flora, fauna, cuaca, hingga pengetahuan sosial. Ini mencakup bagaimana manusia memahami dunia di sekitarnya. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari, Dosen dan buku bukan satu-satunya sumber ilmu. Sekarang ada YouTube, TikTok Edukasi, dan forum-forum daring yang membentuk cara pikir masyarakat.
Dulu, orang tua kita bisa memprediksi cuaca cuma dari gerak awan atau suara hewan. Sekarang? Kita panik kalau aplikasi cuaca error. Pengetahuan lokal sering diremehkan karena dianggap "ketinggalan zaman", padahal di baliknya ada kebijaksanaan yang terbukti bertahan ratusan tahun.
3. Sistem Teknologi dan Peralatan Hidup
Berisi alat-alat dan teknologi yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Termasuk di dalamnya pakaian, rumah, alat transportasi, dan teknologi digital. Dari motor listrik hingga aplikasi pembayaran digital, semua memengaruhi gaya hidup mahasiswa masa kini.
Dulu, gotong royong adalah gaya hidup. Sekarang? Lebih sering jadi slogan. Masyarakat makin individualis, sibuk dengan urusan pribadi dan dunia digital. Tetangga sakit enggak tahu. Orang kecopetan malah direkam, bukan ditolong. Budaya sosial kita berubah, tapi sayangnya bukan ke arah yang lebih peduli. Di era medsos, simpati bisa diketik tapi aksi nyata makin langka.
4. Sistem Mata Pencaharian
Berkaitan dengan cara masyarakat mencari nafkah dan mempertahankan hidup, seperti berburu, bertani, berdagang, atau bekerja di sektor formal. Zaman dulu, profesi dihormati karena kontribusinya. Petani, nelayan, pengrajin adalah pilar budaya dan ekonomi. Sekarang? Anak muda lebih pengen jadi selebgram daripada nelayan. Nggak salah sih, tapi ketika sektor produksi ditinggalkan, siapa yang bakal jaga kedaulatan pangan kita?
Ironis, kita bangga makanan lokal tapi tidak mau tahu siapa yang menanam.
5. Sistem Religi
Semua budaya punya cara sendiri untuk terhubung dengan yang ilahi. Tapi hari ini, agama kadang jadi alat politik atau pembatas, bukan pemersatu. Simbol keagamaan ramai, tapi rasa kasih sayang sesama manusia justru menipis.
Upacara keagamaan jalan terus, tapi nilai-nilainya kadang cuma jadi formalitas. Kita sering ribut soal perbedaan agama, padahal intinya sama: kasih sayang, toleransi, dan kebaikan.
Budaya religius seharusnya bikin kita lebih manusiawi, bukan malah mudah menghakimi
6. Sistem Kemasyarakatan (Organisasi Sosial)
"Dulu tetangga kayak keluarga, sekarang saling curiga."
Gotong royong sekarang tinggal jadi tema seminar atau tulisan di spanduk. Di perkotaan, banyak yang nggak kenal tetangga. Hubungan sosial makin renggang, tergantikan interaksi digital.
Teknologi mendekatkan yang jauh, tapi menjauhkan yang dekat. Kita bisa balas status WhatsApp teman yang tinggal di Eropa, tapi lupa menyapa ibu-ibu sebelah rumah.
7. Kesenian
Indonesia itu gudangnya seni. Tapi ironis, banyak seniman hidupnya pas-pasan. Karya budaya kita diakui dunia, tapi pelakunya sering dipinggirkan. Pemerintah kadang cuma peduli kalau udah viral.
Dukung budaya lokal itu bukan cuma beli tiket konser luar negeri, tapi juga datengin pentas wayang atau pameran lukisan lokal.
Integrasi Budaya: Ketika Budaya Bertemu, Harusnya Saling Peluk, Bukan Saling Sikut
Pernah enggak kamu ngerasa hidup di Indonesia tuh kayak nonton festival budaya tiap hari? Hari ini ketemu orang Batak yang suaranya lantang dan blak-blakan, besok makan rujak cingur bareng teman Jawa, lusa ngopi bareng anak Makassar sambil diskusi politik.
Itu semua terjadi karena satu hal: integrasi budaya. Simpelnya, ini adalah proses menyatunya berbagai budaya dalam satu ruang sosial. Tapi, kayak pertemanan beda karakter, integrasi itu enggak selalu mulus. Ada gesekan, ada adaptasi, dan ada juga yang diem-diem saling ilfeel.
Apa Itu Integrasi Budaya?
Integrasi budaya adalah proses ketika dua atau lebih kebudayaan saling bertemu, berinteraksi, lalu membentuk kesatuan sosial yang relatif stabil. Bahasa gampangnya: budaya-budaya beda saling berbaur dan hidup berdampingan.
Tapi ingat ya, berbaur bukan berarti membaurkan paksa. Budaya A enggak harus jadi seperti budaya B. Yang ideal justru ketika keduanya saling mengisi, bukan saling menghapus.
Integrasi Itu Bukan Asimilasi Paksa
Di sekolah kita diajarin integrasi itu bagus, tapi kenyataannya? Kadang budaya dominan malah menekan budaya lain. Bahasa daerah pelan-pelan hilang karena semua harus “seragam nasional”. Tradisi lokal ditinggalkan karena dianggap "tidak modern".
Kita terlalu sering memaksa keseragaman atas nama persatuan. Padahal, kekuatan Indonesia justru ada di keberagaman itu sendiri. Jangan sampai integrasi berubah jadi penyeragaman budaya yang membunuh identitas lokal.
Saya hanya seorang mahasiswa, tapi saya percaya bahwa memahami budaya adalah langkah awal untuk memahami diri sendiri.
1. https://www.detik.com/jogja/budaya/d-7581584/7-unsur-kebudayaan-menurut-koentjoroningrat-beserta-contohnya
2. https://www.gramedia.com/literasi/integrasi/


No comments:
Post a Comment