Nama : Ravenzka Grace Surlia
NIM : 243300020030
Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular
Dosen Pengampu : Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., Mi.I.Kom
Analisa Gowok Kamasutra Jawa Dari Perspektif Budaya, Sosial, Etika dan Agama
Sekilas Tentang Buku
Kamasutra Gowok membahas Tradisi yang menggambarkan proses pembelajaran seorang remaja laki-laki yang baru saja disunat kepada seorang perempuan yang disebut gowok. Menurut cerita, tradisi gowok ini berakar dari kebudayaan istana di Tiongkok sebelum menyebar ke tanah Jawa. Di Jawa, seorang perempuan bernama Goo Wook Niang dianggap sebagai tokoh pertama yang mengenalkan metode mendidik anak laki-laki menjelang dewasa dengan cara mengajak mereka tinggal bersamanya. Karena nama Goo Wook Niang sulit diucapkan oleh lidah orang Jawa, maka nama tersebut kemudian disederhanakan menjadi gowok agar lebih mudah diingat dan diucapkan.
Gowok merupakan sosok perempuan yang memiliki peran sebagai pembimbing bagi para remaja laki-laki yang sedang memasuki usia dewasa, khususnya dalam hal mengenal dan mengalami secara langsung hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan seksual. Dalam menjalankan peran tersebut, seorang gowok terikat pada sejumlah larangan, yaitu tidak diperkenankan mengandung, tidak boleh menikah, serta dilarang menumbuhkan perasaan cinta kepada pemuda yang dibimbingnya.
Meski sering dianggap tabu, praktik ini secara historis pernah dianggap sebagai bentuk pendidikan seksual tradisional.
Buku ini bukanlah bacaan yang berisi pornografi. Sebaliknya, isinya lebih mirip karya antropologi budaya yang menggali warisan lokal dan menantang pandangan moral masyarakat modern. Buku ini mendorong pembaca untuk berpikir secara lebih dalam dan terbuka.
1. Perspektif Budaya
Dari sudut pandang budaya, tradisi gowok mencerminkan sebuah bentuk pewarisan nilai dan praktik sosial yang unik, khas masyarakat Jawa masa lampau. Keberadaannya sebagai bagian dari proses pendewasaan laki-laki menandakan bahwa seksualitas pernah diintegrasikan secara terbuka dalam sistem pembelajaran sosial. Hal ini menantang anggapan modern yang sering menganggap seksualitas sebagai hal privat dan tabu.
Dari perspektif budaya, praktik pergowokan bisa dipahami sebagai cara lokal dalam menyampaikan pengetahuan tentang seksualitas, jauh sebelum ada pendidikan formal. Dalam konteks masa lalu, pergowokan dilihat sebagai bentuk penghormatan terhadap pengalaman dan pengetahuan hidup.
Pergowokan bukan prostitusi, melainkan ritual berbasis simbol dan struktur sosial. Di dalamnya ada penghormatan pada pengalaman, ketundukan pada guru, dan pemahaman bahwa tubuh pun bagian dari warisan budaya.
Tradisi ini juga menunjukkan proses akulturasi antara kebudayaan Tiongkok (melalui figur Goo Wook Niang) dan budaya Jawa, yang kemudian melahirkan istilah lokal “gowok”. Terlepas dari kontroversinya, gowok adalah bukti bahwa masyarakat tradisional memiliki caranya sendiri dalam mengelola pendidikan seksual, sebelum hadirnya institusi pendidikan formal.
Di era modern, praktik ini bisa dianggap menyimpang, terutama karena adanya perubahan cara pandang masyarakat terhadap seks, gender, dan hubungan kekuasaan. Dan buku ini, meski memotret sejarah, tidak cukup menyodorkan kritik terhadap patriarki yang melingkupinya.
Tradisi memang penting untuk dilestarikan, namun harus terus direfleksikan, agar tidak menjadi pembenaran bagi praktik yang menindas kelompok tertentu, khususnya perempuan.
2. Perspektif Etika
Secara etis, praktik gowok menimbulkan dilema. Di satu sisi, ia bisa dilihat sebagai bentuk pendidikan seksual yang ‘terstruktur’ dimana remaja laki-laki belajar langsung dari seorang dewasa yang dianggap kompeten. Namun di sisi lain, praktik ini membuka ruang bagi potensi relasi kuasa yang timpang dan eksploitasi seksual terselubung, terutama karena yang menjadi subjek pembelajaran adalah pengalaman seksual secara langsung.
Pantangan-pantangan yang diberlakukan kepada gowok (tidak boleh hamil, menikah, atau jatuh cinta) bisa dianggap sebagai bentuk pengendalian tubuh perempuan demi kepentingan ‘pendidikan’ laki-laki. Ini menimbulkan pertanyaan serius tentang etika tubuh dan otonomi perempuan dalam tradisi tersebut.
Maka, dari perspektif etika, Kamasutra Gowok menghadirkan ironi. Sebuah budaya yang mengklaim mendidik, justru melanggengkan hierarki dan ketimpangan kuasa.
3. Perspektif Sosial
Tradisi gowok merefleksikan konstruksi maskulinitas dalam masyarakat Jawa tradisional, di mana kedewasaan laki-laki didefinisikan melalui pengalaman seksual. Hal ini menguatkan norma sosial bahwa pria harus “tahu urusan ranjang” sebelum menikah, sedangkan perempuan dijaga kesuciannya. Ketimpangan ini memperlihatkan bias gender yang dilembagakan dalam struktur sosial dan adat.
Dalam konteks sosial, buku ini menyoroti sikap masyarakat Indonesia yang sering kali hipokrit terhadap seksualitas. Di satu sisi, seks adalah topik yang dianggap tabu. Namun di sisi lain, banyak tradisi lokal yang justru terkait dengan seks dan diterima secara diam-diam. Masyarakat gemar menyembunyikan seksualitas, tetapi diam-diam mengonsumsinya.
Peran gowok sebagai pendidik sekaligus objek pengalaman seksual juga menciptakan ambiguitas sosial karena di satu sisi, mereka dihormati karena fungsinya, namun di sisi lain dikucilkan dari kehidupan normatif (tidak boleh menikah, mencintai, atau berkeluarga). Ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan dalam tradisi tersebut berfungsi secara sosial, tetapi tidak diberi ruang secara personal.
4. Perspektif Agama
Dalam kacamata agama manapun, khususnya dalam konteks mayoritas masyarakat Jawa yang beragama Islam, tradisi gowok jelas bertentangan dengan ajaran moral dan syariat. Islam menekankan pentingnya hubungan seksual yang hanya dilakukan dalam ikatan pernikahan, serta larangan keras terhadap zina. Praktik gowok yang membolehkan hubungan seksual di luar pernikahan, meski dalam konteks ‘pendidikan’, tetap dianggap sebagai pelanggaran moral.
Namun, buku ini juga mengajak kita untuk melihat bahwa cara pandang terhadap tubuh dan seksualitas pernah berbeda. Masyarakat lokal pada masa lalu memiliki sistem nilai sendiri yang tidak selalu sejalan dengan tafsir agama hari ini.
Kesimpulan
Buku Ini memang bukan untuk semua orang, tapi tidak dipungkiri bahwa buku ini akan bermanfaat bagi sebagian orang. Kamasutra Gowok bukan buku yang nyaman dibaca. Ia penuh gangguan, pertanyaan, dan sensasi. di satu sisi, ia merepresentasikan cara unik masyarakat tradisional dalam mempersiapkan remaja menuju kedewasaan; namun di sisi lain, ia membuka ruang perdebatan serius terkait etika, kesetaraan gender, serta pertentangannya dengan norma-norma agama dan sosial modern.
Kamasutra Gowok bukan buku yang mudah dicerna. Topiknya rumit, sensitif, dan mengandung banyak perdebatan. Buku ini membuka tabir tradisi lama yang selama ini diselimuti tabu. Ia tidak hanya berbicara soal seksualitas, tetapi juga tentang bagaimana budaya membentuk pendidikan, bagaimana etika menghadapi tubuh dan kuasa, bagaimana masyarakat membangun norma gender, dan bagaimana agama memberi batas antara nilai dan penyimpangan.
Sumber : buku Nyai Gowok

No comments:
Post a Comment